Label

Tampilkan postingan dengan label KAWINKA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAWINKA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juli 2015

ASAS UPI Bandung dan puisi hasil keroyokan




Eksperimentasi semestinya tidak jalan di tempat, juga dalam ber-sastra. Berhenti eksperimen niscaya melahirkan kejumudan sikap, stagnasi ide, dan mandek kreativitas. Sesunggunya berbagai eksperimen banyak yang sudah dilakukan, semisal menulis puisi secara berantai. Namun menindaklanjuti hasil eksperimen tersebut dengan dilakukan editing atau revisi yang serius, lalu dipublikasikan ke koran atau diterbitkan dalam bentuk buku, itu yang sangat jarang, malah bisa dikatakan belum ada puisi hasil kerja kolektif. Apa salahnya kami mencoba.


ASaS UPI*

RENUNGAN MALAM 1

Aku teringat kau Litaniar
sekuntum mawar yang senantiasa mekar
sepeti fajar, hari demi hari
rinduku menderu
seperti kaum barbar
memangsa orang
masa lalumu

Di sini
di kedai sunyi ini
aku memikirkan cara terbaik
untuk membunuh kenanganku

O Litaniar! Kekasih dalam kesunyianku
mawar hitam yang merambati hari-hariku
ingin kucabut tangkaimu dari dadaku
dengan tangan berdarah
Karena aku seperti Yesus itu
memanggul salib dari Cicalengka ke Ledeng.
2015


*ASaS UPI adalah represanti dari Doddi Ahmad Fauii, Fajar M. Fitrah, Adhimas Muhammad, Zulkifli Sonyanan, Mustafa Reza, dan Zulfa Nasrullah.


 ASaS UPI 2*


RENUNGAN MALAM 2

Di ledeng
tiba-tiba udara menerbangkanku ke Leiden
di punggung Desember

Dalam renungan ini
nasibku seperti
lekuk-lekuk di dadamu
penuh keringat

Aku ingat pertamakali tiba di tempat ini
kau berikanku seikat gandum
dan bibir yang ranum
pelan-pelan kucuri rautmu yang bergetar

Audry, catatlah ini
bukan sebagai surat atau sajak
yang akan mengingatkanmu pada seseorang
tapi pada sebuah negeri dalam diriku
yang terjajah abadi

2015


*ASaS UPI adalah represanti dari Doddi Ahmad Fauji, Fajar M. Fitrah, Fuad Jauharudin,  Rangga Abdul Azis,  Adhimas Muhammad, Zulkifli Songyanan, Mustafa Reza, dan Aden Maruf.


ASaS UPI 2*

RENUNGAN MALAM 3

Meidina, dari nanar  tatapmu
lantunan sopran itu bergetar
seperti pagoda di Myanmar
Sekhusuk biksu
apalagi yang lebih sunyi
dari sebotol anggur dalam kulkas
aku putuskan
menjadi seorang Mon
yang menziarahi 3000 kuburan
di dadamu
dari kibasan rambutmu
demonstran-demonstran  mati bangkit kembali
menjelma gagak-gagak purba
bersama skop dan dendam yang berkarat
aku pun berjalan,
hanyut dalam suara flute menuju maut

Meidina, ingin kureguk secawan anggur cinta kita,
 menyala-nyala

Di Myanmar, matahari telah kalis
tapi lantunan sopranmu kekal
dalam kidung yang digubah
seorang biksu

2015


*ASaS UPI adalah represanti dari Doddi Ahmad Fauji, Fajar M. Fitrah, Fuad Jauharudin,  Rangga Abdul Azis,  Adhimas Muhammad, Zulkifli Songyanan, Mustafa Reza, dan Aden Maruf.

ASaS UPI 2*


RENUNGAN MALAM 4

Ya Maharani Hyang Agung
demi kumbang-kumbang
yang tak dapat membedakan
mana kembang rose dan kembang senyummu
aku bersaksi
tiada yang lebih dinanti
selain bedug maghrib
dan matamu yang kerap
menuntaskan dahaga
dalam bermiliyar dzikir
pada setiap hasta syahadat
ketika langit menarik kembali
pelita yang pernah dilahirkannya
tapi cai tak pernah mahi
sebagai wudhu tubuhku

Ya Maharani, seperti Neng Li
matamu adalah kiblat
bagi seorang penyair kasmaran
orbit  seluruh galaksi
dan merdu seluruh nyanyi
Pada tiap puncak malam
doa lembut ini selalu kuucapkan
berbahagialah maharani!

2015


*ASaS UPI adalah represanti dari Doddi Ahmad Fauji, Fajar M. Fitrah, Fuad Jauharudin,  Rangga Abdul Azis,  Adhimas Muhammad, Zulkifli Songyanan, Mustafa Reza, dan Aden Maruf.


ASaS UPI 2*


RENUNGAN MALAM 5

Di sebabkan oleh
keharusaan sahur
dengan berat hati
kau bangkitkan seluruh lelaki
dari mimpinya yang kering

Disebabkan oleh
desak imsak
selepas kau tanak
beberapa harap
yang kita titip
pada bulir-bulir padi
pada kembang-kembang melati

Hilda, di sini bulan sabit
merangkak purnama
pasti sampai, juga harap
yang kau masak di wajan hatiku
untuk sahur  tiap ramadhan

2015


*ASaS UPI adalah represanti dari Doddi Ahmad Fauji, Fajar M. Fitrah, Fuad Jauharudin,  Rangga Abdul Azis,  Adhimas Muhammad, Zulkifli Songyanan, Mustafa Reza, dan Aden Maruf.

ASaS UPI adalah singkatan dari Arena Studi Apresiasi Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Sebagai UKM, AAaS didirikan pada 12 Januari 1991 di UPI oleh beberapa sastrawan, kala itu masih calon sastrawan, antara lain almarhum Wan Awar, Doddi Ahmad Fauji, Deden A. Azis, Nenden Lilis A. Dari waktu ke waktu, ASaS telah mengkader beberapa penulis sastra yang berkiprah secara nasional seperti Doddi Ahmad Fauji, Faisal Syahreza,  Edwar Maulana, Nenden Lilis A, Deden A. Azis, Frans Ekodhanto, dll.

Jumat, 01 Mei 2015

PUISI TENTANG MENULIS PUISI


Kepada Litaniar Qonakis Iskandar

Aku sangat percaya puisi
dan menulisnya
serupa jembatan menghubungkan
kita dalam cinta yang meledak-ledak
sejak itu, sejak aku tertambat
bibir-mu selalu merangsang imanku
aku ingin cucus
aku akan cucus tak henti-hentinya
aku pasti cucus hanya dengan-mu

Puisi telah menuntun-mu
pulang hanya ke arahku
puisi usai kutulis, kau membacanya
sebagai doa sebelum beranjak tidur
membuat Amerika yang bar-bar
jatuh dan bertaubat

Ketika pemuka agama meninggalkan puisi
bahkan menolak puisi dalam berdoa
aku bersetia dan berterima kasih
kepada puisi yang telah meyakinkan-mu
akan bersamaku
hanya bersamaku
bercinta
dan beranak-pinak


Bandung, 2015

·         Cucus adalah bercinta penuh gairah dengan direstui Tuhan dalam pelaminan
       Pernah dipublikasikan di Koran Lampung Pos, edisi 22 Februari 2015.

Minggu, 05 April 2015

Cicalengka

Sebuah stasiun tua warisan Belanda, enggan berubah, enggan bertambah. Perniagaan bertumpu pada pabrik tahu dan panen tomat, sekalipun presiden berulang kali jatuh. Sampai juga akhirnya kau sadar, rakyat terpaksa membeli kucing dalam karung, hingga terpilih pemimpin paling lembek dalam sejarah Republik.Kawan, kau harus berkata-kata. Telingaku terbuka untuk semua luka. Katakan padaku mengapa yang tumpah selalu kesah. Mengapa presiden takut mati.

Tak ada yang fasih berucap. Protes yang keras bergaung di ruang kosong. Juga di suatu hari pada pukul 10 pagi, ketika orang-orang berkepala batu dari negeri api, yang menyemburkan asap hitam dari mulut dan telinga, berbanjar mengepung stasiun, mereka menaruh pergelangan tangan di atas rel. Sebuah lok yang memuat mayat-mayat busuk, melindas tangan sia-sia itu, yang terucap ialah euforia: “Horeee, lengan kita sudah buntung. Kini kita bisa jadi pengemis yang resmi. Jadi bala bagi para pendusta!“

Bersahutan orang-orang berkepala batu dari negeri api, tertatih-tatih tanpa lengan, menyeru dan mengajak serta zombie-zombie korban Lumpur Lapindo, serempak merangsek ke arah ibukota. Bertambahtambah para pengikut dari pelbagai pelosok. Setiap kampung beling yang dilintasi, mengutus perwakilan dengan biji mata yang telah dicongkel sebelah, daun telinga digunting separuh, batang kaki ditebas sampai betis, hingga menjelma manusia paling papa, lalu mengepung Istana dengan gemuruh pilu: Tuan kami belum makan, jangan beri kami peluru!

Telinga kuasa lebih sering alfa. Sekalipun sampai akhirnya, di suatu sore yang ranum oleh putus asa, seorang anak muda meloncat dari gerbong kereta ke arah moncong istana, lalu menulis puisi di tubuhnya dengan kobaran api. Jeda sesaat, hening sewaktu.Bermilyar kupu-kupu menari dalam kubangan haru, mewakili langit yang ikut berlutut. Anak-anak kambing mengembik di gurun tandus, lengkingannya diserap sunyi yang abadi, dan kicau burung-burung beri kesaksian tentang penguasa yang selalu meminta nyawa, selalu haus korban.
Kawan, penghuni istana tidak bergeming juga bukan, sekalipun nyawa-nyawa bergelimang di depan hidungnya. Mereka telah buta, tuli, dan bisu, dan tidak akan kembali pada sedia kala.
Jakarta, 2011 

Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" pada 1 Februari 2015

Jatinegara

Sejak bosan menggenang di Cipinang, AKU menghilir ke timur, menyepi di Pondok Kopi. Tetapi sama belaka, tak ada sunyi yang sejati. Gerah membuncah, dipancarsiarkan kotak pandora dari bokong pejabat yang keranjingan berbohong. Maka AKU pun kembali pada tabiat lama: Jadi pengungsi abadi di setiap persinggahan. Berbekal toa dan palu, AKU menumpang kereta yang memendam riwayat luka. Berulang kali kulintasi Jatinegara.
Inilah stasiun terluka sejak kuasa pertama ditancapkan, sejak VOC mengajarkan cara menyunat anggaran dengan brilian. Membuat kalian jadi kecoa yang megap-megap, jadi kupu-kupu malam yang legam. Kalian tidak beroleh jatah kudapan yang dijanjikan undang-undang. Kedaulatan-mu raib disaksikan murka Tuhan dan banjir bandang.
AKU berkoar-koar menawarkan puisi yang terjanji, dan kedaulatan paling hakiki. AKU berkata tentang aneksasi Orde Baru dan Freeport, membuat warga Papua jadi bergolak. Demi perut buncit, demi kemilau emas, mereka melibas Kennedy dan menggulingkan Bung Karno. AKU bersabda, wahai kalian yang terenggut dan tercerabut, yang dikhianati para pemungut suara, berteriaklah dengan dengkul bahwa pengupingan-mu tidak cukup lagi dihibur dongengan para pemimpin yang lembek namun semena-mena.
AKU terus berteriak, sekalipun tak pernah berbalas.AKU mengajak, tak bersambut. AKU menyeru, malah ditipu. Setelah semedi di Pondok Kopi, kusadari ternyata khotbahku senada dengan ceramah ustad yang berlomba melawak dalam televisi, karena doyan uang, di mana ibu-ibu berseragam menjadi mustaminya. Pangsa pasar bisnis zikir, memang perempuan-perempuan bermasalah.
Di Jatinegara, AKU bersua Ronggowarsito. Sebagai junior, kumohon hikmah darinya. “Penyair yang budiman, bacakanlah sajak-sajak-mu!“ “Jauh sebelum Musa mengambil sumpah di Tursina, agama dan wanita belia, selalu jadi komoditas menggiurkan. Sejak kompeni membangun Jatinegara, pejabat dan penjahat adalah sahabat yang saling bertukar tempat. Dan sejak Julius menjabat kaisar, negara tidak lagi membutuhkan puisi, maka para penyair harus digantung!“

Jakarta, 2012 


* Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" pada 1 Februari 2015

Tentang Eklektika

Kepada Karintania Maharani yang Agung 
Akan kuulang-ulang ini pernyataan, sambil menggenggam jemari-mu: AKU tidak membutuhkan interpretasi Pancasila versi politikus. Karena AKU telah siap moksa, menyatu dengan keheningan.
Tetapi AKU sangat menginginkan segera bersanding dengan-mu, membawakan-mu tujuh musim pancaroba, kapal pesiar, kertas kosong berikut penanya. AKU akan mendampingi-mu berpesiar ke kota-kota terindah, guna mengabadikan mahakarya para arsitek, dan merekam seluruh senyuman tulus ke dalam puisi. AKU akan menjadi ayah teladan bagi anak-anak batin yang kau lahirkan. Karin, AKU yang terbaik untuk-mu, dan tidak usah menghiraukan pidato demagogis kaum agony.
Para pengkhayal akan binasa dan tercela, karena hanya berjanji semasa kampanye. Itulah maklumat yang tersurat dalam kitab Taurat. Bukalah jendela hati-mu seluas Kalam Ilahi, supaya AKU tidak menjadi pengingkar. AKU mempersiapkan doa untuk bertamu ke ruang batin-mu. AKU ingin kau selalu bahagia dan mengulurkan senyum termulai. Untuk itulah kudirikan sekolah, kubentuk koperasi rempahrempah, kuterbitkan majalah, agar dapat menopang dan memayungi-mu dari hujan yang memedihkan.Adakalanya manusia berikut perangainya, amat barbar melontarkan kedengkian, menukik seperti hujan panah di Kurusetra. Kekasih, hanya untuk-mu AKU bersedia ikut wajib militer. Dada dan doa-doaku akan menjadi tameng bagi-mu.
Karin, kau bisa sangat tidak percaya pada janjijanjiku. Bisa menyalakan atau memadamkan lilin di kamar-mu, kapan pun kau menghendakinya. Bisa memutar arah kipas angin, bahkan bisa meledakkan matahari sekalipun. Tetapi kau tidak akan pernah bisa melarangku untuk mencintai-mu.
Bandung, 2014 

Catatan

* Agony: Para dewa yang berdebat di langit tentang bagaimana harus memadamkan api yang kebakaran. Mereka terus saja berdebat, tidak melakukan aksi, sementara bumi terus saja terbakar dan sudah hampir gosong. Dengan kata lain, Agony adalah dewa yang gemar berjanji.

** Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" pada 1 Februari 2015

Jumat, 05 Desember 2014

Aku Cinta Pada-mu (1)



Bagi-mu yang menyimpan hamparan laut
Sebuah perahu akan berlabuh
Mengantarkan salam dan kasihku
Sebatang sungai akan mengalirkan
Kerinduan dan peluk-ciumku

Bagi-mu yang terlunta-lunta di belantara kota
Yang didera kelaparan di tengah pesta pora
Yang dihardik kesepian di tengah keramaian
Bertandanglah ke ruang batinku
Akan kuhibur kau dengan selarik puisi:
Aku cinta kepada-mu!

Jakarta, 2005 - 2011

Aku Cinta pada-mu (2)

Inilah hidupku: Sunyi
Senyap langit
    Senyap bumi

Jakarta dini hari sehabis idul fitri:
Semesta yang mengheningkan cipta

Adakah berbuah
Bila kutanam di lubuk hati-mu

Ciumanku ingin bangkit
    Membakar kecantikan-mu
Supaya waktu tidak cepat berlalu

Di sini tidak ada musim gugur
Tapi daun-daun selalu luruh
Kemurungan sigap datang
Lalu kembali seperti biasa
Kita sibuk dan lupa


Jakarta, 2000 – 2004

Aku Cinta pada-mu (3)

(1)
Aku menulis sajak ini
Dengan tidak mengatasnamakan rakyat
Sebab aku pun rakyat

Kau pernah berjanji akan menerimaku
Sabagai apapun. Kekasih, ketahuilah
Aku mencintai-mu sebagai rakyat malang
Karena selalu dikhianati pemerintah

Tapi jika masih terbit pagi berikut mataharinya
Pasti kusunting engkau
Namun bersiaplah menikah di hati masing-masing
Sebab rumah-rumah ibadat telah dibakar umat
Maskawinku tangisan yatim piatu korban DOM
Ditambah jerit pengungsi Ambon dan Timor

(2)
Demi gedung-gedung yang berebut mencakar langit
Demi demonstran dan aparat yang berjabat hati
Dengan batu dan peluru: Aku mencintai-mu
Tapi ternyata hanya mencintai tanah air
Yang dipimpin penyamun dan pencoleng


Jakarta, 2002

Aku Cinta pada-mu (4)

(1)

Kekasih, akulah kota Jakarta yang semerawut
Dengan pemakaman umum yang tak terawatt

Tiba-tiba banjir bandang menerjang
Bah tumpah dari delapan penjuru
Liar, seperti prajurit kelaparan

Ke mana kau akan mengungsi
Berpalinglah pada ruang batinku:
Pada satu-satunya kuburan yang tak terendam


(2)

Aku tak bisa lagi memberi irama pada cuaca
Sedang si penagkap angin yang berpengalaman
Dengan wajah tirus dan jarring di tangan
Telah pulang ke akhir sejarah
Tinggal aku, kota yang sengsara
Harus merawat-mu dari wabah dan musibah

Hari ini tak ada mendung yang menggantung
Di atas rumah-mu. Tak ada halilintar
Yang tersesat arah. Ledakan petir telah lindap
Tetapi hujan tak pernah letih menari
Dengan seluruh jiwanya. Jika rinyai itu
Membuncah lagi, dan langit kembali berkabung
Kau akan basah kuyup. Rapuh
Seperti kapal terbengkelai di gigir pantai
Kau akan demam dan meracau


(3)

Kudatangi laut ke rumahnya
Siapa tahu dia memendam kesumat
Kujenguk langit dan berkunjung ke
Sarang badai
--kami baik-baik saja, kata mereka—
Hanya memang aku tak melihat hujan yang
Seharusnya tengah mendengkur di Istana Kemarau


(4)

Aku tak mengerti perasaaanku terkini
Apakah tengah membeku seperti batu
Atau mengalir deras, tak terhadang
Bahkan aku mencari-cari masihkah adakah
Kesengsaraan yang bisa mengucurkan tangisan

Kucemaskan kau karena segalanya
Makin sulit diramalkan. Kucemaskan kau
Karena bala dan petaka lebih dekat
Dari urat leher. Kucemaskan kau
Karena hidup semakin tidak memiliki kepastian
Kucemaskan kau karena peradaban telah begitu koma



Jakarta, 2002

Aku Cinta pada-mu (5)

Menunggu adalah perangai bebatuan
Aku bukan batu
Segera kulayarkan sebuah ciuman
Ke jantung-mu
Sebelum hari berlalu

Jika kelak kita akan mengarungi lautan luas
Aku akan menjadi nahkoda bagi-mu

Ingatanku telah mengukir jalan menuju ke sana
Rumah yang masih dirahasiakan Azza Wazalla
Bukankah seringkali kuajak kau menziarahinya
Dengan keyakinan bahwa nereka
Diperuntukkan bagi orang yang laknat

Dan aku mencintai-mu bukan lantaran
Tak ada orang lain yang layak untuk dicintai
Aku mencintai-mu karena pintu batinku
Telah terbuka untuk setiap kepulangan-mu

Pulanglah ke arahku
Ke tenda ibrahim


Jakarta, 2003

Aku Cinta pada-mu (6)

Ada saatnya aku selalu ingin dekat dengan-mu
Tidur di setiap ruang batin-mu
Mengilhami pikiran-pikiran-mu

Ada kalanya hatiku disergap keraguan yang datang
    Tiba-tiba
Benarkah kita tidak akan terpengaruh jarak dan
    Waktu
Keraguan yang kupikir amat manusiawi
Maka wahai kekasih, berilah aku sebentuk
    Kepastian

Wahai lautan ispirasiku, betapa penting
    Kehadiran-mu
Kuharap begitupun sebaliknya
Seperti api dan sumbu, kita saling membutuhkan
Saat menyalakan pelita

Mari kita leburkan jarak dan waktu
Yang masih menjadi pemisah di antara kita


Jakarta, 2003

Aku Cinta pada-mu (7)

Engkau di seberang, janganlah cemas
Sebab di benua yang lain, tak jauh dari hati-mu
Aku tengah memintal benang-benang kesetiaan
Jika telah usai kurajut sebuah mantel
Akan kupaketkan kepada-mu
Kenakanlah sebagai jubah kebersamaan kita

Cinta kita semakin berjarak, semakin membara
Menyulut kerinduanku hingga berkobar-kobar
Jika di tengah kegelapan kau melihat selubung
    Cahaya
Itulah pelita yang memancar dari kedalaman
    Cintaku


Jakarta, 2004

Aku Cinta pada-mu (8)

Aku telah menjadi tanah
Yang siap disemai benih
Kan kukembalikan jadi sebentuk tunas

Aku adalah sebait puisi
Yang telah merangkum kecantikan-mu
Kupancarkan keindahannya
Untuk dunia yang tak lelah bermandi darah

Aku obor bagi mereka yang kegelapan
Petiklah api yang memancar di hati-mu
Bakarlah sumbu jantungku

Aku adalah sebaris doa
Kuharap engkau akan memanjatkannya
Ke arasy yang tak terperi
Moga kegelapan
Lekas mempersempit wilayah kelamnya



Jakarta, 2004

Aku Cinta pada-mu (9)

Aku telah membelikan-mu  T-shirt allsize
Membawakan matrioska dari Ismailova
Memperlihatkan potret gigir Moskwa
Kurajut selimut dari kabut Yunani
Kukirimkan gantungan kunci dari Abudhabi
Kuselendangkan samping Sukowati
Kuhiasi jenjang leher-mu dengan kalung Papua
Kusematkan emblem palu-arit dari Kremlin
Tetapi selalu saja ada yang kurang

Apakah aku telah menjanjikan yang berlebih

Kelak jika kuganti lima batang cokelat
Dengan sepenggal sajak
Semata-mata supaya cenderamata ini
Lebih kekal dari usia kita


Jakarta, 2004

Aku Cinta pada-mu (10)

Sini, Nak! Siapa nama-mu?
Sapa orang tua-mu? Sudah  sekolahkah?
Ini recehan. Belilah bonbon

Aku teriris

Mengapa kau lari ke jalanan
Jadi kau kuntil anak, jadi hantu cilik
Jadi lirik yang getir dalam puisiku

Mengapa kau menolak bapak
Mengapa kau menuding ibu
Mengapa kau menghardik aku

Mengapa hari bermandi janji
Mengapa hati turun-naik
Mengapa uang bawa kuasa
Mengapa kuasa bawa congkak
Mengapa Papua berambut ikal
Mengapa Mongol bermata senja

Sini, Nak!
Mengapa kau betah di jalanan?


Jakarta, 2004